بسم الله الرحمن الرحيم 
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati"



Allah SWT berfirman, 

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
"Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami"."




Dari Anas disebutkan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang mendalam ilmunya. Beliau menjawab, "Orang yang benar sumpahnya, jujur lidahnya, istiqamah hatinya, dan selalu menjaga perut dan kemaluannya. Itulah orang-orang yang mendalam ilmunya." (HR Ibn Jarir, Ath Thabrani dalam al Kabir, dan Ibn Abu Hatim)


Sebagian ulama mengatakan, "Orang yang mendalam ilmunya adalah orang yang didapati dalam ilmunya empat hal: takwa antara dirinya dan Allah, tawadhu' antara dirinya dan makhluk, zuhud antara dirinya dan dunia, dan bermujahadah antara dia dan dirinya sendiri." (Tafsir al Baghawi)

Imam al-Ghazali mengatakan, "Ada lima perkara yang merupakan tanda-tanda ulama akhirat, yang dapat dipahami dari lima ayat dalam Kitabullah, yaitu rasa takut, khusyuk, tawadhu', akhlak yang baik, dan mendahulukan akhirat dibandingkan dunia, yakni zuhud."

Rasa takut diantaranya terdapat dalam firman Allah Ta'ala,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama 
(QS Fathir: 28)
Khusyuk diantaranya terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
Sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. (QS Al Imran: 199)

Tawadlu’ diantaranya terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hijr: 88)

Akhlak yang baik diantaranya terdapat dalam firman Allah Ta’ala,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. (QS Al-Imran: 159)

Sedangkan zuhud diantarnya terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS Al-Qashash: 80)

Demikian keterangan dari kitab al-Ihya.

Ibn Umar mengatakan, “Seseorang tidak akan menjadi ahli ilmu hingga dia tidak iri terhadap orang yang berada di atasnya, tidak merendahkan orang yang berada dibawahnya, dan tidak mengharapkan imbalan dari ilmunya.”

Adapun asy-Sya’bi mengatakan, “Seorang faqih hanyalah orang yang wara’ dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, sedangkan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah.”

Seseorang mengatakan kepada al-Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya para ahli fiqih kami mengatakan, ‘Begini…’” Maka berkatalah al-Hasan, “Apakah engkau hanya melihat seorang faqih saja? Sesungguhnya seorang faqih adalah orang yang zuhud di dunia, mengharapkan akhirat, memahami agamanya, dan senantiasa beribadah kepada Tuhannya.” 


رب فانفعنا ببرگتهم ، واهدناالحسنی بحرمتهم
وأمتنا فی طريقتهم ، ومعافاة من الفتن